• Grebeg Alas Susuk Wangan

    Grebeg ALAS Susuk Wangan adalah kegiatan budaya yang berbasis pada tradisi warga dalam memelihara sumber air yang dipadu dengan penanaman pohon...

  • Yuk Selfie Di Sini!

    Artistic Billboard yang dipasang menjelang Grebeg Alas Susuk Wangan 2017 ternyata menarik perhatian netizen untuk berfoto ria...

  • Air Terjun Panglebur Gongso

    Adalah salah satu ikon wisata Desa Gondang. Walaupun ketinggiannya hanya sekitar 10m, air terjun ini unik karena terdapat gua di bawahnya...

Tampilkan postingan dengan label GASW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GASW. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Maret 2017

Photo Booth Desa Wisata Gondang Menarik Perhatian Netizen


Hai guys.
Di Desa Wisata Gondang ada tempat baru yang bagus untuk foto-foto lho!
Tempat ini terletak di Dusun Krajan, Desa Gondang tidak jauh dari perbatasan Desa Wisata Gondang dari arah Limbangan.
Adalah sebuah artistic billboard yang dipasang menjelang diselenggarakannya Grebeg Alas Susuk Wangan 2017, tak disangka menarik perhatian banyak orang yang melewatinya sehingga mereka meluangkan waktu sejenak untuk berhenti dan berfoto ria di depan billboard tersebut, dan tentunya karena kekinian, foto-foto tersebut kemudian beredar di sosial media.
"Bentuknya sangat Instagramable", demikian menurut Dhika Septian, pemuda warga Desa Gondang.
Billboard ini sangat sederhana. Terbuat dari bahan-bahan sederhana antara lain bambu dan ban bekas. Namun karena sentuhan tangan trampil berjiwa seni, artistic billboard ini terlihat sangat menarik dengan latar belakang pemandangan persawahan Desa Gondang yang asri.
Jika anda lewat tempat ini, jangan sampai lupa untuk berhenti sejenak mengabadikan kenangan indah di Desa Wisata Gondang.

[Wahyu Andy Kurniawan - 03/2017]

Minggu, 12 Maret 2017

Grebeg Alas Susuk Wangan 2017 : Nguri-uri Tradisi Melestarikan Sumber Air

Ratusan warga tampak berkumpul di halaman Masjid At-Taqim. Tradisi yang digelar 10-11 Maret 2017 ini merupakan sebagai bentuk ucapan rasa syukur dan terima kasih masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan air yang memenuhi saluran irigasi untuk sumber kebutuhan untuk lahan pertanian. Dalam tradisi tersebut warga mempersembahkan ayam tukung dan nasi bondet dan juga melakukan makan bersama.
Selain itu, ritual  juga mengenang kepada Mbah Sunan Bromo atau Pangeran Bagus Aji, yang telah membuat saluran irigasi dari sumber air bernama susuk wangan. Mereka membawa berbagai macam makanan. Seperti, ayam, nasi bondet, daun codet, mie, dan sayur-sayuran yang sudah dimasak.


Masyarakat berjalan kaki menuju Wangan Tukung untuk melakukan ritual utama Tradisi Grebeg Alas Susuk Wangan. Ritual diawali dengan menyembelih satu ekor ayam tukung, yakni ayam yang tidak memiliki ekor dan menyembelih beberapa ekor ayam biasa untuk dimasak. Tanpa jeroan, ayam tukung dan ayam lainnya dimasak dengan cara dibakar. Sedangkan warga lainnya mempersiapkan menu lainnya sebagai menu pendamping ayam bakar. Selain itu, warga juga melakukan bersih-bersih di saluran irigasi yang dinamakan irigasi Wangan Tukung.
Setelah ayam tukung dan menu lainnya matang, tokoh agama desa mempersiapkan prosesi utama dari grebek alas susuk wangan. Nasi bondet merupakan nasi yang dimasak dicampur dengan beras ketan. Sesaji kemudian diletakkan di batu besar. Batu besar itu merupakan tempat duduk untuk bertapanya Mbah Sunan Bromo. Usai ritual doa persembahan, ritual dilanjutkan dengan makan bersama yang dihidangkan di atas lembaran daun pisang.
"Tradisi ini dilakukan setiap tahun sebagai wujud syukur warga kepada Tuhan dan Mbah Bromo yang telah membuat saluran irigasi dari sumber mata air,"  kata Adi Wismono, kadus Penggik.
Camat Limbangan Widodo mengatakan, pihaknya menyambut baik dan mendukung tradisi ini sebagai pelestarian budaya yang terkait dengan pengairan di wilayah Kecamatan Limbangan. Saluran irigasi ini dibuat oleh Mbah Sunan Bromo atau Pangeran Bagus Aji berasal dari Kasultanan Cirebon yang oleh masyarakat dikenal sebagai sosok pemberani yang telah membuat saluran irigasi Wangan Tukung sebagai sarana mengalirkan air dari sumber air ke lahan pertanian di Desa Gondang.
"Tradisi ini telah dilakukan warga bertahun-tahun sebagai wujud syukur warga terhadap Tuhan yang telah memberikan kelimpahan air yang digunakan warga untuk irigasi," kata dia.


Sabtu, 11 Maret 2017

Grebeg Alas Susuk Wangan 2017 Kembali Digelar


Desa Wisata Gondang pada tahun 2017 ini kembali menggelar Grebeg Alas Susuk Wangan tepatnya pada hari Jum'at dan Sabtu, 10-11 Maret 2017.
Grebeg Alas Susuk Wangan (GASW) merupakan tema acara yang dilakukan setap setahun sekali. Tradisi ini dilakukan untuk menghormati tradisi, diawali dengan bersih-bersih saluran air yang dipergunakan untuk mengairi sawah, dan dipadu dengan kegiatan penanaman pohon di seputar Gunung Ungaran di sekitar Desa Gondang.
“Setelah selesai bersih-bersuh kemudian dilakukan ritual penyembelihan ayam tukung (ayam yang tidak memiliki ekor) kemudian dipanggang di hulu sungai tersebut. Setelah matang, ayam ditaruh di atas nasi yang sudah digelar di atas daun pisang kemudian dilakukan selamatan bersama,” kata Zaenurrahim, salah seorang pegiat lingkungan.


Zaenurrahim melanjutkan, dengan selamatan tersebut diharapkan air yang mengiri sawah terus bisa lancar dan panen bisa melimpah. Acara kemudian dilanjutkan dengan penanaman pohon di sekitar sumber mata air secara bersama.

“Karena dengan menjaga pohon dan menanamnya maka sumber mata air terus akan tetap besar dan debit air tidak berkurang, karena kebutuhan akan air semakin meningkat, bukan hanya untuk mengairi sawah tapi juga untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak dan mandi,” paparnya.


Dalam acara tersebut juga ditampilkan pementasan kesenian rakyat setempat, selain untuk mempertahankan kesenian lokal juga sebagai media mengumpulkan warga setempat. Setelah pagelaran kesenian selesai, acara dilanjutkan dengan sarasehan bermetodekan dialog atau pengajian dengan pembicara beberapa kyai yang menguraikan pentingnya menjaga lingkugan, yang dikaitkan antara hukum Al-quran dengan hukum negara dan budaya warga. Di sinilah substansi penanaman pemahaman terhadap warga, bahwa begitu pentingnya menjaga hutan dari kerusakan. Diharapkan dengan adanya Grebeg Alas Susuk Wangan, petani dan masyarakat luas lebih peduli dengan kondisi debit air yang semakin hari semakin menurun dikarenakan, selain rusaknya hutan dan pemakaian air yang semakin meningkat. Masyarakat juga berharap pemerintah di masa mendatang lebih bijak terhadap penggunaan air, karena sumber-sumber mata air di seputar Gunung Ungaran yang sangat besar menjadi sumber air utama yang diambil oleh PDAM di tiga titik, yaitu Kabupaten Kendal, Kota Semarang, dan Kabupaten Semarang, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sehingga sudah sepatutnya jika ada alokasi anggaran, baik anggaran Kab/Kota maupun anggaran Provinsi untuk menjaga lingkungan agar tetap lestari.

[Zaenurrahim - SPI - Sekolah Rakyat - 03/2017]

Senin, 22 Februari 2016

Grebeg Alas Susuk Wangan, Ajakan Agar Masyarakat Mencintai Hutan

KENDAL, KOMPAS.com - Hutan yang ada di lereng Gunung Ungaran, Jawa Tengah, harus dilestarikan sebab di dalamnya ada kehidupan dan peradaban.

Apabila hutan gunung itu rusak, kehidupan dan peradaban sekitarnya akan musnah. Jangan menebang pohon sembarangan, jangan membakar lahan sembarangan, dan tidak boleh mengambil atau mengeruk tanahnya.

Budayawan asal Semarang, Kyai Budi Harjono, mengemukakan hal itu dalam diskusi Grebek Alas Susuk Wangan di Limbangan Kabupaten Kendal, Sabtu (20/2) malam. 



Budi menjelaskan, bentuk gunung seperti caping yang biasa digunakan petani. Selain untuk melindungi diri dari panas, caping juga bisa diartikan sebagai simbol kehidupan manusia.

“Bentuk caping adalah melingkar dan kemudian mengerucut. Artinya, semua kegiatan kita sebagai manusia, ujung-ujungnya akan mengrucurut kepada Allah SWT. Sebagai manusia, kita harus saling bergandengan tangan, tolong-menolong, meskipun berbeda agama, suku, bahasa dan bangsa. Sebab, semua nantinya akan menghadap kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tambahnya.

Budi mengajak semua orang untuk mencintai bumi karena bumi adalah peninggalan warisan anak cucu.

Pembicara lain dalam diskusi itu, Siswadi, menjelaskan hasil penelusuran pegiat-pegiat lingkungan yang menyebutkan luasan hutan alam semakin menyempit. Hal itu karena hutan terus ditebang, dirambah, dibakar, diberi obat supaya tanamannya mati. Satwa liar semakin langka dan habitatnya semakin terdesak.

Peneliti itu menambahkan, hutan yang ada di Limbangan Boja itu sebagian sudah beralih fungsi.

“Untuk itu, saya mengajak kepada masyarakat yang tinggal di Desa Pakis, Desa Sumberahayu, Desa Gondang, dan Desa Limbangan, supaya bisa merawat hutan yang ada di sekitar sini. Supaya alam tetap ramah dan bersahabat dengan kita, sehingga tidak marah dan tidak terjadi bencana,” katanya. 



Kepala Desa Gondang Limbangan, Yudhi Susanto, mengatakan bahwa acara Grebek Alas Susuk Wangan, digelar selama dua hari, Jumat dan Sabtu (20/2). Acara Grebek Alas Susuk Wangan itu diisi dengan penanaman pohon bersama, dialog dan diskusi lingkungan, dan kampanye budaya.

“Ada sekitar 18 desa yang berbatasan langsung dengan hutan gunung Ungaran. Kalau kita tidak merawat hutan di sini, maka bisa berakibat fatal,” kata Yudhi.

Ia menjelaskan, perlu adanya kesadaran dari semua pihak, terutama masyarakat sekitar hutan untuk itu merusak hutan.

“Kami juga meminta kepada pemerintah Kendal, Perhutani, dan lainnya untuk bisa membantu menjaga kelestarian hutan ini. Kami ingin anak cucu kami masih bisa melihat hutan mereka,” tambahnya.

Sumber: Kompas.Com

Minggu, 21 Februari 2016

Tradisi Susuk Wangan, Melestarikan dan Memelihara Air Sebagai Sumber Kehidupan

Komunitas Soma Manis bekerjasama dengan Pemerintah Desa Gondang, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal menyelenggarakan "Grebeg ALAS (Amrih Lestari Ananing Sumber) Susuk Wangan", Jumat Wage 19 Pebruari 2016. Ini adalah kegiatan budaya yang berbasis pada tradisi warga dalam memelihara air, yang dipadu dengan penanaman pohon di sekitar Gunung Ungaran.

Acara dipusatkan di Lapangan Dusun Nambangan, Desa Gondang, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal. Acara ini melibatkan warga setempat, perwakilan masyarakat dari 21 desa di sekeliling hutan Gunung Ungaran, para pegiat lingkungan, Koramil Limbangan, Koramil Sumowono, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), serta beberapa stackholder yang lain.

Acara ini dibuka Jumat pagi dengan Upacara Tradisi Susuk Wangan yang dilaksanakan di Kali Gongso yang letakknya tidak jauh dari Lapangan Dusun Nambangan. Akses menuju kali Gongso tersebut relatif ekstrim. Harus ekstra hati-hati dalam menyusuri jalan setapak menuju sungai itu.

Sesampai di kali gongso, para warga segera malakukan bersih kali. Beberapa warga lain menyiapkan ubo rampe untuk selamatan, yaitu membuat ayam panggang tanpa bumbu sebagai lauk dalam makan tumpeng bersama setelah selamatan. Ayam bakar tadi dicincang menjadi kecil-kecil lembut dicampur dengan daun code yaitu tanaman liar disekitar kali gongso yang menjadi lalapan khas di desa Gondang.

Setelah bersih kali selesai, baru selamatan dimulai. Kepala Desa dan sesepuh desa Gondang melaksanakan ritual permohonan ijin kepada Sang Pencipta yang dilakukan dibebatuan teratas pada sungai tersebut. setelah sesaji ditaruh oleh sesepuh desa, acarapun dimulai. Dalam acara ini dilakukan juga penanaman pohon secara simbolis oleh Camat Limbangan, perwakilan Koramil Limbangan, perwakilan Koramil Sumowono, Kepala dan Sekretaris Desa Gondang.

Selamatan selesai, para peserta upacara susuk wangan tersebut segera menikmati makanan yang telah disiapkan. Menyatu dengan alam, suara air sungai dan segarnya angin lereng Gunung Ungaran, menambah kenikmatan saat menikmati makan pagi menjelang siang itu.

SUSUK WANGAN

“Susuk Wangan”, merupakan upacara adat dan tradisi dimana seluruh warga masyarakat desa membawa panggang ayam kampung dan tumpeng yang dibawa ke sumber air, serta disajikan dan mohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Hal itu dimaksud agar air yang digunakan warga masyarakat desa menjadi sangat berarti dan bermanfaat besar bagi segenap warga masyarakat semuanya. Oleh karena itu, warga masyarakat dan para pengunjung berdoa bersama di dekat sumber air tersebut.

Pelaksanaan acara adat “Susuk Wangan” tidak hanya ditujukan pada sumber air bersih (air minum), tetapi juga diarahkan pada sumber air yang bermanfaat untuk mengaliri sawah-sawah. Oleh karena itu, para pemilik sawah juga ikut serta dalam tradisi tersebut.

Upacara adat dan tradisi “Susuk Wangan” sekarang ini mampu menghadirkan warga masyarakat dan pengunjung yang luar biasa banyaknya. Upacara tersebut dilaksanakan oleh warga masyarakat desa setempat yang mendapat dukungan dari pemerintah desa sampai tingkat yang lebih atas lagi.
Dengan adanya acara ritual “Susuk Wangan” tersebut menjadikan warga masyarakat desa wisata ini bertambah lebih bersemangat dan lebih percaya diri serta meyakini bahwa desa mereka mempunyai potensi alam yang luar biasa.