• Grebeg Alas Susuk Wangan

    Grebeg ALAS Susuk Wangan adalah kegiatan budaya yang berbasis pada tradisi warga dalam memelihara sumber air yang dipadu dengan penanaman pohon...

  • Yuk Selfie Di Sini!

    Artistic Billboard yang dipasang menjelang Grebeg Alas Susuk Wangan 2017 ternyata menarik perhatian netizen untuk berfoto ria...

  • Air Terjun Panglebur Gongso

    Adalah salah satu ikon wisata Desa Gondang. Walaupun ketinggiannya hanya sekitar 10m, air terjun ini unik karena terdapat gua di bawahnya...

Tampilkan postingan dengan label Susuk Wangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Susuk Wangan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 September 2018

SUSUK WANGAN DESA WISATA GONDANG


Gondang - (7/9/2018) Di dalam masyarakat Dusun Beku Desa Gondang, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, dikenal tradisi Susuk Wangan. Tradisi ini erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari warga yang banyak berkutat dengan pertanian dan sumber air, syukur akan kelimpahan air yang mengairi di sekeliling lereng Gunung Ungaran.

Tradisi penyembelihan ayam Kampung di dekat sumber mata air oleh masyarakat
Pada tanggal 7 September 2018 masyarakat sekitar berbondong bondong ikut membersihakan di sumber mata air lereng Gunung Ungaran tersebut. Susuk Wangan sendiri, memiliki arti membersihkan saluran air. Sebagai ungkapan syukur atas sumber air yang diberikan Allah, setiap tahunnya mereka menggelar acara ini. Tradisi yang memilik nama lengkap “Ritual Susuk Wangan Amerti Tirta” ini biasanya dilakukan pada hari Jumat Kliwon pada Bulan Besar (Dzulhijah). 
"Ritual ini, merupakan adat istiadat masyarakat Desa Gondang sekitarnya, sebagai bentuk rasa syukur karena selama ini mereka memperoleh manfaat dari aliran air gunung yang mengalir sepanjang tahun dari sumber mata air di Lereng Gunung Ungaran.

Syukuran/slametan bersama sama setelah membersihkan sumber mata air
Warga Desa Gondang khususnya Dusun Beku yang mayoritas kaum tani sebelumnya melakukan gotong royong, beramai-ramai kerja bakti membersihkan saluran air, sebagai upaya melestarikan sumber air gunung yang dianggap pembawa berkah kemakmuran kemudian di lanjutkan dengan syukuran di tempat mata air tersebut dan kemudian mengadakan slametan bersama sama. Beraneka masakan yang di hidangkan dan hasil panggangan ayam yang secara langsung ditempat tersebut menjadi ciri khas tersendiri di acara susuk wangan tersebut. 


Partisipasi semua kalangan masyarakat dalam usuk wangan Mas Istadi (jaket merah)
"Kita harus melestraikan budaya cinta terhadap lingkungan dan tidak merusak lingkungan yang Allah SWT telah karunikan kepada masyarakat Desa Gondang dengan merawatnya, syukur atas limpahan mata air yang melimpah ruah ini", tutur Walyono warga setempat.

Minggu, 12 Maret 2017

Grebeg Alas Susuk Wangan 2017 : Nguri-uri Tradisi Melestarikan Sumber Air

Ratusan warga tampak berkumpul di halaman Masjid At-Taqim. Tradisi yang digelar 10-11 Maret 2017 ini merupakan sebagai bentuk ucapan rasa syukur dan terima kasih masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan air yang memenuhi saluran irigasi untuk sumber kebutuhan untuk lahan pertanian. Dalam tradisi tersebut warga mempersembahkan ayam tukung dan nasi bondet dan juga melakukan makan bersama.
Selain itu, ritual  juga mengenang kepada Mbah Sunan Bromo atau Pangeran Bagus Aji, yang telah membuat saluran irigasi dari sumber air bernama susuk wangan. Mereka membawa berbagai macam makanan. Seperti, ayam, nasi bondet, daun codet, mie, dan sayur-sayuran yang sudah dimasak.


Masyarakat berjalan kaki menuju Wangan Tukung untuk melakukan ritual utama Tradisi Grebeg Alas Susuk Wangan. Ritual diawali dengan menyembelih satu ekor ayam tukung, yakni ayam yang tidak memiliki ekor dan menyembelih beberapa ekor ayam biasa untuk dimasak. Tanpa jeroan, ayam tukung dan ayam lainnya dimasak dengan cara dibakar. Sedangkan warga lainnya mempersiapkan menu lainnya sebagai menu pendamping ayam bakar. Selain itu, warga juga melakukan bersih-bersih di saluran irigasi yang dinamakan irigasi Wangan Tukung.
Setelah ayam tukung dan menu lainnya matang, tokoh agama desa mempersiapkan prosesi utama dari grebek alas susuk wangan. Nasi bondet merupakan nasi yang dimasak dicampur dengan beras ketan. Sesaji kemudian diletakkan di batu besar. Batu besar itu merupakan tempat duduk untuk bertapanya Mbah Sunan Bromo. Usai ritual doa persembahan, ritual dilanjutkan dengan makan bersama yang dihidangkan di atas lembaran daun pisang.
"Tradisi ini dilakukan setiap tahun sebagai wujud syukur warga kepada Tuhan dan Mbah Bromo yang telah membuat saluran irigasi dari sumber mata air,"  kata Adi Wismono, kadus Penggik.
Camat Limbangan Widodo mengatakan, pihaknya menyambut baik dan mendukung tradisi ini sebagai pelestarian budaya yang terkait dengan pengairan di wilayah Kecamatan Limbangan. Saluran irigasi ini dibuat oleh Mbah Sunan Bromo atau Pangeran Bagus Aji berasal dari Kasultanan Cirebon yang oleh masyarakat dikenal sebagai sosok pemberani yang telah membuat saluran irigasi Wangan Tukung sebagai sarana mengalirkan air dari sumber air ke lahan pertanian di Desa Gondang.
"Tradisi ini telah dilakukan warga bertahun-tahun sebagai wujud syukur warga terhadap Tuhan yang telah memberikan kelimpahan air yang digunakan warga untuk irigasi," kata dia.


Sabtu, 11 Maret 2017

Grebeg Alas Susuk Wangan 2017 Kembali Digelar


Desa Wisata Gondang pada tahun 2017 ini kembali menggelar Grebeg Alas Susuk Wangan tepatnya pada hari Jum'at dan Sabtu, 10-11 Maret 2017.
Grebeg Alas Susuk Wangan (GASW) merupakan tema acara yang dilakukan setap setahun sekali. Tradisi ini dilakukan untuk menghormati tradisi, diawali dengan bersih-bersih saluran air yang dipergunakan untuk mengairi sawah, dan dipadu dengan kegiatan penanaman pohon di seputar Gunung Ungaran di sekitar Desa Gondang.
“Setelah selesai bersih-bersuh kemudian dilakukan ritual penyembelihan ayam tukung (ayam yang tidak memiliki ekor) kemudian dipanggang di hulu sungai tersebut. Setelah matang, ayam ditaruh di atas nasi yang sudah digelar di atas daun pisang kemudian dilakukan selamatan bersama,” kata Zaenurrahim, salah seorang pegiat lingkungan.


Zaenurrahim melanjutkan, dengan selamatan tersebut diharapkan air yang mengiri sawah terus bisa lancar dan panen bisa melimpah. Acara kemudian dilanjutkan dengan penanaman pohon di sekitar sumber mata air secara bersama.

“Karena dengan menjaga pohon dan menanamnya maka sumber mata air terus akan tetap besar dan debit air tidak berkurang, karena kebutuhan akan air semakin meningkat, bukan hanya untuk mengairi sawah tapi juga untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak dan mandi,” paparnya.


Dalam acara tersebut juga ditampilkan pementasan kesenian rakyat setempat, selain untuk mempertahankan kesenian lokal juga sebagai media mengumpulkan warga setempat. Setelah pagelaran kesenian selesai, acara dilanjutkan dengan sarasehan bermetodekan dialog atau pengajian dengan pembicara beberapa kyai yang menguraikan pentingnya menjaga lingkugan, yang dikaitkan antara hukum Al-quran dengan hukum negara dan budaya warga. Di sinilah substansi penanaman pemahaman terhadap warga, bahwa begitu pentingnya menjaga hutan dari kerusakan. Diharapkan dengan adanya Grebeg Alas Susuk Wangan, petani dan masyarakat luas lebih peduli dengan kondisi debit air yang semakin hari semakin menurun dikarenakan, selain rusaknya hutan dan pemakaian air yang semakin meningkat. Masyarakat juga berharap pemerintah di masa mendatang lebih bijak terhadap penggunaan air, karena sumber-sumber mata air di seputar Gunung Ungaran yang sangat besar menjadi sumber air utama yang diambil oleh PDAM di tiga titik, yaitu Kabupaten Kendal, Kota Semarang, dan Kabupaten Semarang, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sehingga sudah sepatutnya jika ada alokasi anggaran, baik anggaran Kab/Kota maupun anggaran Provinsi untuk menjaga lingkungan agar tetap lestari.

[Zaenurrahim - SPI - Sekolah Rakyat - 03/2017]

Minggu, 21 Februari 2016

Tradisi Susuk Wangan, Melestarikan dan Memelihara Air Sebagai Sumber Kehidupan

Komunitas Soma Manis bekerjasama dengan Pemerintah Desa Gondang, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal menyelenggarakan "Grebeg ALAS (Amrih Lestari Ananing Sumber) Susuk Wangan", Jumat Wage 19 Pebruari 2016. Ini adalah kegiatan budaya yang berbasis pada tradisi warga dalam memelihara air, yang dipadu dengan penanaman pohon di sekitar Gunung Ungaran.

Acara dipusatkan di Lapangan Dusun Nambangan, Desa Gondang, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal. Acara ini melibatkan warga setempat, perwakilan masyarakat dari 21 desa di sekeliling hutan Gunung Ungaran, para pegiat lingkungan, Koramil Limbangan, Koramil Sumowono, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), serta beberapa stackholder yang lain.

Acara ini dibuka Jumat pagi dengan Upacara Tradisi Susuk Wangan yang dilaksanakan di Kali Gongso yang letakknya tidak jauh dari Lapangan Dusun Nambangan. Akses menuju kali Gongso tersebut relatif ekstrim. Harus ekstra hati-hati dalam menyusuri jalan setapak menuju sungai itu.

Sesampai di kali gongso, para warga segera malakukan bersih kali. Beberapa warga lain menyiapkan ubo rampe untuk selamatan, yaitu membuat ayam panggang tanpa bumbu sebagai lauk dalam makan tumpeng bersama setelah selamatan. Ayam bakar tadi dicincang menjadi kecil-kecil lembut dicampur dengan daun code yaitu tanaman liar disekitar kali gongso yang menjadi lalapan khas di desa Gondang.

Setelah bersih kali selesai, baru selamatan dimulai. Kepala Desa dan sesepuh desa Gondang melaksanakan ritual permohonan ijin kepada Sang Pencipta yang dilakukan dibebatuan teratas pada sungai tersebut. setelah sesaji ditaruh oleh sesepuh desa, acarapun dimulai. Dalam acara ini dilakukan juga penanaman pohon secara simbolis oleh Camat Limbangan, perwakilan Koramil Limbangan, perwakilan Koramil Sumowono, Kepala dan Sekretaris Desa Gondang.

Selamatan selesai, para peserta upacara susuk wangan tersebut segera menikmati makanan yang telah disiapkan. Menyatu dengan alam, suara air sungai dan segarnya angin lereng Gunung Ungaran, menambah kenikmatan saat menikmati makan pagi menjelang siang itu.

SUSUK WANGAN

“Susuk Wangan”, merupakan upacara adat dan tradisi dimana seluruh warga masyarakat desa membawa panggang ayam kampung dan tumpeng yang dibawa ke sumber air, serta disajikan dan mohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Hal itu dimaksud agar air yang digunakan warga masyarakat desa menjadi sangat berarti dan bermanfaat besar bagi segenap warga masyarakat semuanya. Oleh karena itu, warga masyarakat dan para pengunjung berdoa bersama di dekat sumber air tersebut.

Pelaksanaan acara adat “Susuk Wangan” tidak hanya ditujukan pada sumber air bersih (air minum), tetapi juga diarahkan pada sumber air yang bermanfaat untuk mengaliri sawah-sawah. Oleh karena itu, para pemilik sawah juga ikut serta dalam tradisi tersebut.

Upacara adat dan tradisi “Susuk Wangan” sekarang ini mampu menghadirkan warga masyarakat dan pengunjung yang luar biasa banyaknya. Upacara tersebut dilaksanakan oleh warga masyarakat desa setempat yang mendapat dukungan dari pemerintah desa sampai tingkat yang lebih atas lagi.
Dengan adanya acara ritual “Susuk Wangan” tersebut menjadikan warga masyarakat desa wisata ini bertambah lebih bersemangat dan lebih percaya diri serta meyakini bahwa desa mereka mempunyai potensi alam yang luar biasa.