• Grebeg Alas Susuk Wangan

    Grebeg ALAS Susuk Wangan adalah kegiatan budaya yang berbasis pada tradisi warga dalam memelihara sumber air yang dipadu dengan penanaman pohon...

  • Yuk Selfie Di Sini!

    Artistic Billboard yang dipasang menjelang Grebeg Alas Susuk Wangan 2017 ternyata menarik perhatian netizen untuk berfoto ria...

  • Air Terjun Panglebur Gongso

    Adalah salah satu ikon wisata Desa Gondang. Walaupun ketinggiannya hanya sekitar 10m, air terjun ini unik karena terdapat gua di bawahnya...

Selasa, 04 September 2018

Presiden Namibia Apresiasi Swasembada Beras Indonesia

Presiden Hage secara khusus mengapresiasi Indonesia yang mampu memenuhi pangan rakyatnya yang berjumlah 250 jiwa sementara Namibia yang berpenduduk 2 juta jiwa masih impor dari negara lain. Selain itu Presiden Hage mengapresiasi Indonesia yg kini mampu swasembada beras dan mengekspor jagung dengan sistem pengairan di area persawahan yg baik tanpa terpengaruh musim.

Presiden Namibia saat Kunjungan ke Indonesia

Kedepannya ada beberapa kerjasama yang akan ditindaklanjuti khususnya di bidang petanian. "Kita juga membangun kerjasama ke depan, yaitu bagaimana merubah lahan kering itu menjadi produktif, bagaimana mengangkat planting indeksnya dari satu menjadi dua kali, dari dua menjadi tiga kali", ujar Amran.

Dengan semangnya swasembada pangan, setiap desa memiliki program dan kegiatan yang berorientasikan di Swasembada Pangan. Dari desalah merupakan titik awal terkait dengan swasembada pangan nasional.

Senin, 27 Agustus 2018

LAUNCHING KAMPUNG KB DESA WISATA GONDANG

Sejak dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 14 Januari 2016, Kampung KB terus tumbuh pesat. Semangat membentuk dan mendirikan Kampung KB di seluruh Nusantara telah menghasilkan ratusan Kampung KB
Kampung KB merupakan salah satu “senjata pamungkas” baru pemerintah dalam mengatasi masalah kependudukan, terutama di wilayah-wilayah yang jarang “terlihat” oleh pandangan pemerintah.

Launching Kampung KB Desa Wisata Gondang

Acara launching kampung KB di Desa Wisata Gondang, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah pada Sabtu 18 Agustus 2018 yang dihadiri oleh para pejabat pemerintah Kabupaten Kendal dari Dinas Kesehatan beserta jajarannya, merupakan salah satu sarana informasi kepada masyarakat akan pentingnya Keluarga Berencana di kalangan Masyarakat. "Kenapa Kampung KB perlu ? Dikarenakan melihat masalah yang ada di masyarakat yang semakin berkurang lahannya, lebih lebih dari perkotaan", tutur Kepala Desa Gondang Bapak Yudhi Susanto.
Kampung KB Desa Wisata Gondang, kedepannya akan menjadi ikon program kependudukan, KB dan Pembangunan Keluarga (KKBPK). Kehadiran Kampung KB bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di tingkat kampung atau yang setara melalui program KKBPK serta pembangunan sektor lain dalam rangka mewujudkan keluarga kecil berkualitas.

Jumat, 24 Agustus 2018

Program Kampung Iklim

Program Kampung Iklim  atau ProKlim merupakan program berlingkup nasional yang dkembangkan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dan seluruh pihak dalam melaksanakan aksi lokal untuk meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim dan pengurangan emisi GRK.
Dalam pelaksanaannya, Pemerintah memberikan penghargaan terhadap masyarakat yang secara berkesinambungan telah melakukan aksi lokal terkait dengan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Adapun aksi adaptasi dan mitigasi yang dikembangkan dan dilaksanakan di tingkat lokal mencakup kegiatan pengendalian banjir, longsor atau kekeringan, peningkatan ketahanan pangan, pengendalian penyakit terkait iklim, pengelolaan dan pemanfaatan sampah/limbah, penggunaan energi baru, terbarukan dan konservasi energi, budidaya pertanian rendah emisi GRK, peningkatan tutupan vegetasi, serta pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Keberadaan kelompok masyarakat dan tokoh lokal yang mampu berperan sebagai penggerak pelaksanaan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, serta ketersediaan instrumen pendukung lainnya merupakan faktor penting agar upaya yang dilakukan dapat terus berkesinambungan.
Pada tahun 2018 ini Desa Gondang menjadi salah satu desa dari dua desa di Kabupaten Kendal yang diusulkan menjadi lokasi penerapan Program Kampung Iklim. Dari hasil penilaian yang dilakukan oleh provinsi berdasarkan variabel di atas, Desa Gondang menduduki peringkat ke-sebelas dari 80 desa di Jawa Tengah yang diusulkan ke KLHK sebagai desa sasaran Program Kampung Iklim (Proklim). Menurut Huda -salah satu tokoh penggerak lingkungan di Desa Gondang-, pengusulan lokasi ProKlim di Desa Gondang yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kendal, karena masyarakat desa Gondang telah melakukan kegiatan yang mendukung upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, walaupun pemahaman masyarakat terhadap adaptasi dan mitigasi tidak sedetail variabel penilaian.
Atas upaya tersebut, tanggal 7 Agustus 2018 satu orang perwakilan dari KLH dan DLHK Provinsi Jawa Tengah melakukan kunjungan ke Desa Gondang. Kunjungan yang juga didampingi oleh DLH Kabupaten Kendal bertujuan untuk melihat secara langsung kondisi dan kesiapan warga serta faktor pendukung lain sebagai desa sasaran ProKlim.

Selasa, 21 Agustus 2018

Gondang, Kampung KB


"Indonesia sedang mengalami dan berusaha mengatasi permasalahan gizi ganda, yaitu kekurangan gizi seperti wasting (kurus) dan stunting (pendek) pada balita, anemia pada remaja dan ibu hamil serta kelebihan gizi, termasuk obesitas baik pada balita maupun orang dewasa,"
"Kondisi tersebut tidak hanya dialami oleh keluarga yang miskin dan kurang mampu. Stunting juga dialami oleh keluarga yang tidak miskin atau yang berada di atas 40 persen tingkat kesejahteraan sosial dan ekonominya. Program Kampung KB menjadi ikon Program Kependudukan, KB dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di tingkat kampung dengan mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera, terbebas dari kemiskinan, stunting (pendek), keterbelakangan dan kebodohan,"

Pada hari Minggu 19 Agustus 2018, Desa Gondang resmi menjadi Kampung KB, sebuah kampung yang ada di desa yang akan menjadi percontohan dalam upaya pencegahan terhadap persoalan tersebut diatas. Kegiatan launching dihadiri oleh Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP2PA) Kabupaten Kendal.
Hadir juga dalam acara tersebut Camat Limbangan, Kades se-Kecamatan Limbangan dan para pemangku kepentingan yang ada di Kec. Limbangan.




Kepala desa Gondang "Yudhi Susanto" dalam sambutannya mengatakan bahwa manfaat dari adanya Kampung KB, selain bisa mengentaskan kemiskinan, juga mendekatkan pembangunan kepada masyarakat. Karena program ini dijalankan dengan melibatkan semua sektor pembangunan.

Kampung KB tidak hanya berbicara soal pembatasan ledakan penduduk, tetapi juga memberdayakan seluruh potensi yang ada di masyarakat untuk berperan secara aktif dan nyata dalam pembangunan.
Kegiatan diakhiri dengan pemasangan prasasti bertuliskan "KAMPUNG KB, Krajan RW 01 Desa Gondang, Kecamatan Limbangan" yang ditandatangani oleh Camat Limbangan - Widodo S.Sos-
x

Senin, 20 Agustus 2018

Merayakan Kemerdekaan

Seperti desa-desa yang lain di tanah air ini, menjelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tercinta semua warga sibuk menghias lingkungannya, mengadakan berbagai lomba, dan pameran pembangunan sebagai wujud rasa syukur atas kemerdekaan bangsa yang dicapai 73 tahun yang lalu.
Begitu juga dengan desa Gondang. Sejak pertengahan bulan Juli, warga beserta pemangku kepentingan desa bersatu padu menyambut datangnya Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Berbagai acara telah dilakukan dan pada puncaknya hari ini 20 Agustus 2018 Desa Gondang turut serta dalam acara Karnaval Pembangunan tingkat Kecamatan.
Tidak tanggung-tanggung, desa yang berada di pojok selatan Kabupaten Kendal ini mengirimkan 9 kontingen iringan karnaval. Tema yang diusung dalam karnaval kali ini adalah konservasi fauna di sekitar Ungaran yang sudah mulai langka, salah satunya adalah trenggiling.






Replika trenggiling berukuran 2 x 5 meter tersebut dibuat dari bambu dan kertas semen. Replika trenggiling dijalankan dengan satu mobil pick up, dan dikawal oleh serombongan warga dengan membawa tulisan pesan-pesan ajakan untuk melindungi satwa yang sudah mulai langka. Karnaval dilakukan di pusat kota Kecamatan Limbangan, dengan start dari lapangan satria desa Limbangan kemudian berjalan memutar di jalan lingkar desa Limbangan.
Kemeriahan sangat terlihat dan antusiasme penonton terhadap hewan tersebut sangat kelihatan, terutama anak-anak.

Video:


Sabtu, 04 November 2017

Lomba Gapura Heppiii 2017




Peringati HUT Kemerdekaan RI ke72 Dinas Pendidikan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kendal gandeng Djarum 76 gelar lomba gapura Desa di Kabupaten Kendal tahun 2017. Lomba Gapura hepi diikuti seluruh kecamatan di Kabupaten Kendal. 

Kepala Bidang Pariwisata Mardi Edi mengatakan, Disporapar bekerjasama dengan Djarum 76 mengadakan lomba resik gapura dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke72 yang diikuti 17 desa yang ada di Kabupaten Kendal.
“Kegiatan ini bermaksud untuk merangsang kegiatan di desa agar masyarakat bisa menyadari kalau pentingnya keberadaan pariwisata desa agar masyarakat bisa meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar dengan mengembangkan UMKM yang ada di desa,” 

“Dari 17 gapura di Desa yang terpilih nantinya hanya dipilih 6 Desa untuk menjadi juara pada perlombaan resik gapura, akan tetapi nantinya 17 desa ini akan dibantu program kebutuhan desa untuk kebersihan sebagai contoh tempat sampah, MCK,  sanitasi dan lainnya.
Sedangkan untuk kriteria atau poin-poin sebagai dasar lomba yang harus diikuti oleh peserta, antara lain konstruksi dan estiteka 1-15 poin, untuk keindahan dan kesersihan 1-20 poin, kebersihan dan sanitasi 1-20 poin, nabung buat Desa 1-30 poin dan sosial media 1-15 poin.
“Nantinya akan diambil 6 juara yakni juara 1-2-3 dan harapan 1-2-3, bagi desa yang masuk pada aitem yang ada dan memiliki jumlah poin tertinggi maka desa tersebut menjadi pemenang lomba gapura tahun 2017 ini,” terangnya.


"Gapura Desa Wisata  Gondang" Kecamatan Limbangan meraih juara pertama Lomba Gapura Hepi tingkat Kab Kendal tahun 2017, penilaian meliputi  segi keindahan, kebersihan dan desain gapura. Penilaian dilakukan oleh Tim Penilai yang langsung ke lokasi gapura yang dinilai. Tim hanya menilai 32 gapura, yang merupakan hasil seleksi dari masing-masing kecamatan. “Penilaian tidak hanya bentuk gapura yang bagus, tapi lingkungan gapura juga dinilai kebersihannya,”katanya.

Kepala Bidang Pariwisata pada Disporapar Kendal, Edy Mardi Susilo mengatakan, kegiatan lomba gapura ini dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Kendal dan HUT Kemerdekaan RI tahun 2017. “Dengan lomba gapura ini diharapkan desa-desa saling berlomba memperindah wajah desanya,”ucapnya.

Semoga Kedepan Desa Wisata Gondang bisa terus maju dan lebih berkembang lagi. 

Gondang Bisa!!!

Rudhi Kurnia Rahman

Rabu, 29 Maret 2017

Gondang Ikuti Lomba Desa Tingkat Kabupaten

Gondang, 29 Maret 2017.
Tidak semua desa dan kelurahan beranggapan bahwa event Lomba Desa dan Kelurahan penting untuk diikuti. Barangkali karena dianggap tidak banyak memberi manfaat bagi desa atau kelurahannya. Namun, bagi kami warga Desa Gondang, Kec. Limbangan, Kab. Kendal, Lomba Desa dan Kelurahan sangat penting dan sangat bermanfaat, untuk memotivasi kami sendiri dalam mengembangkan desa agar semakin maju.
Pada tahun 2017 ini, desa kami terpilih dalam kegiatan Lomba Desa dan Kelurahan tingkat Kabupaten Kendal.
Lomba Desa dan Kelurahan, merupakan salah satu agenda tahunan pemerintah  yang tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 81 Tahun 2015 tentang Evaluasi Perkembangan Desa dan Kelurahan. Direktorat Jenderal Bina Pemdes adalah pihak yang bertanggung jawab mengemban tugas penyelenggaraannya. Adapun indikator penilaian Lomba Desa dan Kelurahan  adalah; pendidikan, kesehatan masyarakat, ekonomi masyarakat, keamanan dan ketertiban, partisipasi masyarakat, pemerintahan, lembaga kemasyarakatan, dan pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga.
Sesuai dengan Permendagri No. 81/2015 tersebut, Lomba Desa dan Kelurahan merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Evaluasi Perkembangan Desa dan Kelurahan yang ruang lingkupnya meliputi:

  • Evaluasi perkembangan desa dan kelurahan; 
  • Perlombaan desa dan kelurahan; 
  • Pekan inovasi perkembangan desa dan kelurahan; dan 
  • Penentuan lokasi labsite untuk model pengembangan desa dan kelurahan.  (Bab III, Pasal 4,  Permendagri No. 81/2015)

Dalam kunjungan Tim Penilai Lomba Desa Tingkat Kabupaten Kendal (29/03), Kepala Desa Gondang, Yudhi Susanto memberikan paparan selama kurang lebih 1 jam di depan Tim Penilai, dilanjutkan dengan penilaian sesuai dengan indikator yang ada baik dalam bidang administrasi desa maupun dalam bidang lainnya. Setelah selesai seluruh rangkaian kegiatan, acara ditutup dengan sambutan Camat Limbangan, Widodo, yang berisi harapan agar Desa Gondang bisa mewakili Kendal untuk berlaga di Lomba Desa dan Kelurahan di tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Pemaparan Kepala Desa Gondang, Yudhi Susanto di depan Tim Penilai Lomba Desa Kab. Kendal


Wawancara oleh Tim Penilai Lomba Desa Kab. Kendal sesuai bidang penilaian.
Kepala Desa Gondang, Yudhi Susanto (tanda x) didampingi Camat Limbangan, Widodo (tanda xx) memberikan penjelasan kepada Tim Penilai Lomba Desa Kab. Kendal dalam kunjungan di lapangan. 
Penilaian Lomba Desa ini bagi kami warga Desa Gondang memberikan kesan tersendiri  karena memberi motivasi dan memacu semangat kepada kami semua baik pemuda dan pemudi desa, perangkat desa, lembaga-lembaga desa, dan seluruh anggota masyarakat untuk berlomba dan bersaing secara sportif dan positif dalam membangun Desa Gondang menjadi salah satu Desa Unggulan di Kabupaten Kendal yang lebih maju di segala bidang.
Gondang BISA!!!

[Rudhi Kurnia Rahman – 03/2017]

Senin, 20 Maret 2017

Photo Booth Desa Wisata Gondang Menarik Perhatian Netizen


Hai guys.
Di Desa Wisata Gondang ada tempat baru yang bagus untuk foto-foto lho!
Tempat ini terletak di Dusun Krajan, Desa Gondang tidak jauh dari perbatasan Desa Wisata Gondang dari arah Limbangan.
Adalah sebuah artistic billboard yang dipasang menjelang diselenggarakannya Grebeg Alas Susuk Wangan 2017, tak disangka menarik perhatian banyak orang yang melewatinya sehingga mereka meluangkan waktu sejenak untuk berhenti dan berfoto ria di depan billboard tersebut, dan tentunya karena kekinian, foto-foto tersebut kemudian beredar di sosial media.
"Bentuknya sangat Instagramable", demikian menurut Dhika Septian, pemuda warga Desa Gondang.
Billboard ini sangat sederhana. Terbuat dari bahan-bahan sederhana antara lain bambu dan ban bekas. Namun karena sentuhan tangan trampil berjiwa seni, artistic billboard ini terlihat sangat menarik dengan latar belakang pemandangan persawahan Desa Gondang yang asri.
Jika anda lewat tempat ini, jangan sampai lupa untuk berhenti sejenak mengabadikan kenangan indah di Desa Wisata Gondang.

[Wahyu Andy Kurniawan - 03/2017]

Minggu, 12 Maret 2017

Grebeg Alas Susuk Wangan 2017 : Nguri-uri Tradisi Melestarikan Sumber Air

Ratusan warga tampak berkumpul di halaman Masjid At-Taqim. Tradisi yang digelar 10-11 Maret 2017 ini merupakan sebagai bentuk ucapan rasa syukur dan terima kasih masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan air yang memenuhi saluran irigasi untuk sumber kebutuhan untuk lahan pertanian. Dalam tradisi tersebut warga mempersembahkan ayam tukung dan nasi bondet dan juga melakukan makan bersama.
Selain itu, ritual  juga mengenang kepada Mbah Sunan Bromo atau Pangeran Bagus Aji, yang telah membuat saluran irigasi dari sumber air bernama susuk wangan. Mereka membawa berbagai macam makanan. Seperti, ayam, nasi bondet, daun codet, mie, dan sayur-sayuran yang sudah dimasak.


Masyarakat berjalan kaki menuju Wangan Tukung untuk melakukan ritual utama Tradisi Grebeg Alas Susuk Wangan. Ritual diawali dengan menyembelih satu ekor ayam tukung, yakni ayam yang tidak memiliki ekor dan menyembelih beberapa ekor ayam biasa untuk dimasak. Tanpa jeroan, ayam tukung dan ayam lainnya dimasak dengan cara dibakar. Sedangkan warga lainnya mempersiapkan menu lainnya sebagai menu pendamping ayam bakar. Selain itu, warga juga melakukan bersih-bersih di saluran irigasi yang dinamakan irigasi Wangan Tukung.
Setelah ayam tukung dan menu lainnya matang, tokoh agama desa mempersiapkan prosesi utama dari grebek alas susuk wangan. Nasi bondet merupakan nasi yang dimasak dicampur dengan beras ketan. Sesaji kemudian diletakkan di batu besar. Batu besar itu merupakan tempat duduk untuk bertapanya Mbah Sunan Bromo. Usai ritual doa persembahan, ritual dilanjutkan dengan makan bersama yang dihidangkan di atas lembaran daun pisang.
"Tradisi ini dilakukan setiap tahun sebagai wujud syukur warga kepada Tuhan dan Mbah Bromo yang telah membuat saluran irigasi dari sumber mata air,"  kata Adi Wismono, kadus Penggik.
Camat Limbangan Widodo mengatakan, pihaknya menyambut baik dan mendukung tradisi ini sebagai pelestarian budaya yang terkait dengan pengairan di wilayah Kecamatan Limbangan. Saluran irigasi ini dibuat oleh Mbah Sunan Bromo atau Pangeran Bagus Aji berasal dari Kasultanan Cirebon yang oleh masyarakat dikenal sebagai sosok pemberani yang telah membuat saluran irigasi Wangan Tukung sebagai sarana mengalirkan air dari sumber air ke lahan pertanian di Desa Gondang.
"Tradisi ini telah dilakukan warga bertahun-tahun sebagai wujud syukur warga terhadap Tuhan yang telah memberikan kelimpahan air yang digunakan warga untuk irigasi," kata dia.


Sabtu, 11 Maret 2017

Grebeg Alas Susuk Wangan 2017 Kembali Digelar


Desa Wisata Gondang pada tahun 2017 ini kembali menggelar Grebeg Alas Susuk Wangan tepatnya pada hari Jum'at dan Sabtu, 10-11 Maret 2017.
Grebeg Alas Susuk Wangan (GASW) merupakan tema acara yang dilakukan setap setahun sekali. Tradisi ini dilakukan untuk menghormati tradisi, diawali dengan bersih-bersih saluran air yang dipergunakan untuk mengairi sawah, dan dipadu dengan kegiatan penanaman pohon di seputar Gunung Ungaran di sekitar Desa Gondang.
“Setelah selesai bersih-bersuh kemudian dilakukan ritual penyembelihan ayam tukung (ayam yang tidak memiliki ekor) kemudian dipanggang di hulu sungai tersebut. Setelah matang, ayam ditaruh di atas nasi yang sudah digelar di atas daun pisang kemudian dilakukan selamatan bersama,” kata Zaenurrahim, salah seorang pegiat lingkungan.


Zaenurrahim melanjutkan, dengan selamatan tersebut diharapkan air yang mengiri sawah terus bisa lancar dan panen bisa melimpah. Acara kemudian dilanjutkan dengan penanaman pohon di sekitar sumber mata air secara bersama.

“Karena dengan menjaga pohon dan menanamnya maka sumber mata air terus akan tetap besar dan debit air tidak berkurang, karena kebutuhan akan air semakin meningkat, bukan hanya untuk mengairi sawah tapi juga untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak dan mandi,” paparnya.


Dalam acara tersebut juga ditampilkan pementasan kesenian rakyat setempat, selain untuk mempertahankan kesenian lokal juga sebagai media mengumpulkan warga setempat. Setelah pagelaran kesenian selesai, acara dilanjutkan dengan sarasehan bermetodekan dialog atau pengajian dengan pembicara beberapa kyai yang menguraikan pentingnya menjaga lingkugan, yang dikaitkan antara hukum Al-quran dengan hukum negara dan budaya warga. Di sinilah substansi penanaman pemahaman terhadap warga, bahwa begitu pentingnya menjaga hutan dari kerusakan. Diharapkan dengan adanya Grebeg Alas Susuk Wangan, petani dan masyarakat luas lebih peduli dengan kondisi debit air yang semakin hari semakin menurun dikarenakan, selain rusaknya hutan dan pemakaian air yang semakin meningkat. Masyarakat juga berharap pemerintah di masa mendatang lebih bijak terhadap penggunaan air, karena sumber-sumber mata air di seputar Gunung Ungaran yang sangat besar menjadi sumber air utama yang diambil oleh PDAM di tiga titik, yaitu Kabupaten Kendal, Kota Semarang, dan Kabupaten Semarang, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sehingga sudah sepatutnya jika ada alokasi anggaran, baik anggaran Kab/Kota maupun anggaran Provinsi untuk menjaga lingkungan agar tetap lestari.

[Zaenurrahim - SPI - Sekolah Rakyat - 03/2017]